Inovasi Rumah Tahan Gempa oleh BRIN untuk Wilayah Rawan Bencana

8/20/20263 min read

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dan sempat memicu peringatan dini tsunami, menjadi ajang pembuktian lapangan bagi teknologi konstruksi tahan gempa yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tiga unit rumah prototipe hasil rekayasa BRIN yang berdiri di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, tercatat tetap kokoh berdiri meski diguncang gempa berkekuatan besar tersebut. Sebagai pembanding, gedung SD Rangko yang berlokasi tidak jauh dari ketiga rumah itu justru mengalami kerusakan struktural akibat gempa yang sama.

Peristiwa ini kemudian mendorong BRIN untuk mengusulkan agar teknologi rumah tahan gempa yang telah diuji tersebut dijadikan salah satu model dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di wilayah rawan bencana, tidak hanya di NTT tetapi juga di kawasan rawan gempa lain di Indonesia.

Mengenal Teknologi Rumah Komposit Tahan Gempa

Rumah yang diuji ketahanannya dalam gempa NTT ini merupakan pengembangan dari inovasi bernama Bale Kohana, singkatan dari Komposit Tahan Gempa. Teknologi ini pertama kali dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2016, dan diluncurkan sebagai prototipe pada Mei 2019 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan. Setelah BPPT dilebur ke dalam BRIN melalui proses integrasi lembaga riset nasional, pengembangan teknologi ini dilanjutkan oleh Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN.

Ada beberapa aspek teknis yang membedakan rumah ini dari bangunan konvensional:

Material konstruksi. Struktur bangunan tidak menggunakan bata dan beton sebagaimana rumah pada umumnya, melainkan material komposit polimer yang memadukan panel FRP (fiber reinforced polymer), styrofoam atau panel sandwich berbahan EPS, rangka baja ringan, serta bingkai aluminium berlapis anti-korosi. Kombinasi material ini membuat total bobot struktur bangunan dapat mencapai seperempat dari berat struktur rumah konvensional, sehingga beban yang harus ditahan fondasi saat terjadi guncangan gempa jauh lebih ringan.

Sistem sambungan. Antarkomponen bangunan disatukan melalui sistem saling mengunci (joint interlock system), bukan dengan pengecoran atau pengelasan permanen. Desain ini bersifat modular dan pre-assembly, artinya komponen dapat difabrikasi terlebih dahulu di lokasi lain, lalu dirakit di lokasi pembangunan dalam waktu relatif singkat. Sifat modular ini pula yang memungkinkan bangunan dibongkar-pasang, sehingga unit rumah dapat dipindahkan atau disusun ulang sesuai kebutuhan.

Dasar perhitungan ketahanan. Sebelum prototipe pertama dibangun, tim pengembang telah melakukan simulasi komputasi untuk memprediksi ketahanan struktur terhadap guncangan, dengan mengacu pada karakteristik gempa di zona Lombok, Nusa Tenggara Barat, tahun 2018. Hasil simulasi pada masa itu menunjukkan struktur mampu bertahan hingga guncangan setara 7 skala Richter.

Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan rumah ini tahan gempa sekaligus tahan api, ringan, cepat dibangun, dan menurut catatan pengembangnya tergolong terjangkau dari sisi biaya dibandingkan rekonstruksi rumah tembok pascabencana. Pengadaan unit bangunan saat ini dilayani melalui Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) BRIN yang bekerja sama dengan industri lokal, salah satunya PT Sakura Makmur Lestari.

Hasil Pemantauan Pascagempa di NTT

Ketiga rumah yang menjadi objek evaluasi kali ini dibangun pada 2021–2022, sehingga usianya sudah beberapa tahun ketika gempa NTT terjadi. Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, menjelaskan bahwa hasil pemantauan lapangan pascagempa tidak menemukan retak struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi ketiga bangunan tersebut. Kerusakan yang tercatat hanya bersifat kosmetik, yaitu sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.

"Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," ujar Vian.

Meski demikian, BRIN tidak menjadikan hasil pemantauan visual di lapangan sebagai validasi akhir. Pengujian lanjutan direncanakan dilakukan di laboratorium menggunakan metode uji siklik berdasarkan standar SNI 3966:2012, bertempat di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur BRIN. Pengujian ini bertujuan mengukur secara kuantitatif kapasitas struktur menahan beban bolak-balik yang menyerupai pola guncangan gempa, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya disimpulkan hanya dari pengamatan kondisi fisik pascabencana.

Alasan di Balik Dorongan Replikasi

Keputusan BRIN mendorong perluasan penerapan teknologi ini didasarkan pada dua pertimbangan utama.

Pertama, aspek kecepatan pemulihan. Sifat modular dan pre-assembly pada konstruksi ini memungkinkan unit hunian dibangun jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional, sebuah faktor penting mengingat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana kerap tertunda oleh keterbatasan tenaga kerja terampil dan ketersediaan material di lokasi bencana.

Kedua, aspek pembuktian empiris. Gempa Lombok pada 2018 memang menjadi acuan simulasi komputasi saat teknologi ini dirancang, namun gempa NTT 2026 merupakan pengujian nyata pertama pada struktur yang sudah berdiri dan dihuni selama beberapa tahun. Data dari kejadian ini memberi bukti lapangan yang lebih meyakinkan dibandingkan hasil simulasi semata.

Sebagai konteks, kebutuhan akan solusi semacam ini cukup mendesak. Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk periode 2000–2018, tercatat sekitar 228 kali gempa bumi di Indonesia dengan 8.747 korban jiwa, disertai kerusakan rumah sebanyak 483.951 unit rusak berat, 15.282 unit rusak sedang, dan 694.253 unit rusak ringan. Gempa Lombok (magnitudo 7) dan Palu (magnitudo 7,4) pada 2018 juga menyisakan beban rekonstruksi yang sangat besar bagi negara.

Rekomendasi Kebijakan yang Menyertai

BRIN menegaskan bahwa penguatan mitigasi bencana tidak cukup diselesaikan lewat sisi teknologi semata. Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan rumah warga terdampak dengan mengadopsi standar konstruksi tahan gempa, sekaligus merekomendasikan agar edukasi mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa diintegrasikan ke dalam kebijakan perumahan daerah. Dengan begitu, penerapan teknologi ini tidak berhenti sebagai proyek percontohan, melainkan menjadi bagian dari perencanaan tata ruang dan perumahan yang berkelanjutan di wilayah rawan gempa.

Sumber

Platform untuk mendukung kualitas akademik mahasiswa teknik.

© 2025. All rights reserved.

Informasi